Pemkab Tabanan Ajak Lestarikan Kearifan Lokal Bali Lewat Tumpek Uye, Implementasi Visi Tabanan Era Baru

WhatsApp Image 2026-02-07 at 07.28.04

Singasana – Pemerintah Kabupaten Tabanan terus mengajak masyarakat untuk menjaga dan melestarikan nilai-nilai kearifan lokal Bali sebagai bagian dari implementasi Visi Tabanan Era Baru yang Aman, Unggul, dan Madani. Salah satu wujud nyata dari komitmen tersebut tercermin dalam perayaan Hari Suci Tumpek Uye, yang sarat makna spiritual, ekologis, dan kemanusiaan.

Tumpek Uye mengajarkan bahwa kehidupan manusia tidak dapat dipisahkan dari makhluk hidup lainnya, termasuk hewan. Nilai ini tidak hanya menjadi filosofi, tetapi diwujudkan secara konkret melalui tradisi keagamaan yang menumbuhkan rasa hormat, syukur, dan kasih sayang terhadap seluruh ciptaan Tuhan.

Hari suci Tumpek Uye, yang jatuh setiap Saniscara (Sabtu) Kliwon Wuku Uye dan dikenal pula sebagai Tumpek Kandang, merupakan momentum khusus bagi umat Hindu di Bali untuk memuliakan hewan. Istilah “kandang” merujuk pada tempat pemeliharaan hewan, yang menandakan bahwa hari ini didedikasikan bagi penghormatan terhadap hewan ternak maupun hewan peliharaan sebagai bagian penting dalam kehidupan manusia.

Dalam pelaksanaannya, umat Hindu memandikan, menghias, memberi sesajen, serta memanjatkan doa bagi hewan-hewan seperti sapi, kerbau, ayam, anjing, kucing, burung, hingga ikan peliharaan. Hewan-hewan tersebut diyakini memiliki peran dan kontribusi besar bagi keberlangsungan hidup manusia, sehingga patut dihormati secara lahir dan batin.

Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya, dikonfirmasi Jumat (6/2), menyampaikan bahwa Tumpek Uye sejalan dengan ajaran Tat Twam Asi, yang bermakna “aku adalah engkau, engkau adalah aku”. Menurutnya, seluruh makhluk hidup merupakan manifestasi dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan memiliki kedudukan yang patut dihormati.

“Hewan bukan sekadar objek atau makhluk yang bisa dieksploitasi, melainkan bagian dari semesta yang harus diperlakukan dengan kasih dan tanggung jawab,” ujarnya.

Lebih lanjut, Tumpek Uye juga merepresentasikan nilai Ahimsa atau tanpa kekerasan, yang mengajarkan manusia untuk menjalin hubungan harmonis dengan hewan tanpa kekejaman. Nilai ini menjadi bagian tak terpisahkan dari konsep Tri Hita Karana, yakni keseimbangan hubungan antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam lingkungan.

Dalam konteks pendidikan karakter, Tumpek Uye memiliki peran penting sebagai sarana pembelajaran spiritual, terutama bagi generasi muda. Keterlibatan anak-anak dalam perayaan ini menanamkan empati sejak dini, bahwa hewan juga memiliki hak untuk hidup layak dan dihargai.

Di tengah krisis lingkungan global yang ditandai dengan rusaknya ekosistem, punahnya berbagai spesies, dan perubahan iklim, nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Tumpek Uye dinilai semakin relevan. Melalui pelestarian tradisi ini, Pemkab Tabanan berharap masyarakat dapat terus menjaga keharmonisan dengan alam sebagai fondasi mewujudkan Tabanan Era Baru yang berkelanjutan. (tmc/piskp)

About The Author